Latihan itu bernama, empati.

Ini adalah late post, kejadian kurang lebih satu setengah tahun yang lalu.

Jelang tidur, tiba-tiba Kay menyodorkan handphone, meminta saya untuk melihat posting-an dari salah satu teman kerjanya, isinya beasiswa ke Seoul, kerjasama antara KEITI dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, batas akhir pendaftaran kurang dari seminggu ke depan, tanpa pikir panjang saya memintanya untuk mendaftar, Kay membalas “Gimana dengan kamu? Riang?”. Mungkin saat itu saya lagi kesurupan sampe sanggup komentar “itu urusan nanti, yang penting daftar dulu” padahal sejak awal menikah, kami punya prinsip “We rather have nothing than separate to each other”, versi Inggris dari “Makan, ga makan asal kumpul”.

Saya tahu Kay tetap terjaga sampai dini hari, entah mikirin soal beasiswa atau melototin lelang Lego favoritnya :P, sementara saya sukses tidur dalam sekejap, maklum tipe pelor. Di tengah perjuangan mengumpulkan persyaratan, kami sempat bertengkar, saya tipikal melakukan sesuatu dimulai dengan meluruskan niat bersungguh-sungguh, dan saya paham betul Kay, sebagai partner rumahtangga yang luar biasa (saya akan cerita di lain kesempatan) tentu berat hati harus meninggalkan kami. Bahkan, Kay sempat dirawat di Rumah Sakit karena stress, diagnosa sih karena Thypus, tapi stress lah penyebab utamanya. Akhirnya kami sepakat, meluruskan niat sekolah demi memperbaiki kehidupan kami di masa datang, sementara saya akan mengundurkan diri dari pekerjaan dan menyusul secepatnya ke Seoul. Berkali-kali saya bilang ini ke Kay, “Aku siap dan saya harap kamu juga siap untuk meluruskan niat” Sempet sedih luar biasa, karena tidak sedikit yang berkomentar yang menurut saya, justru membuat kami makin stress misalnya “wah bisa jalan-jalan di Korea”, “wah nanti pulang dari beasiswa bisa kebeli xyz” serius, ada lho yang mikir dan komentar seperti itu. Tapi kan kita ga bisa ngelarang orang untuk komentar apa, meskipun kalau saya boleh memilih, tolong semangati kami dengan cara yang benar. Saya percaya, orang-orang yang berkomentar seperti itu berniat baik, hanya saja cara dan kata-kata yang dipilih kurang pas.

Inilah yang membuat saya menulis tentang empati, saya percaya ada orang yang mungkin berkomentar respon saya ini kasar dan lebay karena terlalu memikirkan komentar macam di atas, tapi coba deh, serius nanya, kalau kalian sedang puyeng ngadepin persiapan beasiswa atau misalnya stress ngurus visa negara x, rasanya gimana kalo tiba-tiba ada yang komentar “waah asyiknya bisa jalan-jalan ke negara x, bawain gw oleh-oleh yaa?”, kalo saya sih KZL. Hahahahahaha.

Boleh ya kita mencoba merubah cara kita menanggapi situasi ketika seseorang berkeluh kesah dengan berempati dan mendengar lebih banyak, berempati menurut KBBI adalah em·pa·ti /émpati/ n Psi keadaan mental yg membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dl keadaan perasaan atau pikiran yg sama dng orang atau kelompok lain;
ber·em·pa·ti v melakukan (mempunyai) empati: apabila seseorang mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain, berarti ia sudah mampu ~ 

Sulit memang, saya sendiri masih suka melontarkan respon simpati dibanding empati. Namun, saya yakin kalau kita mau membiasakan diri berempati, kita bisa menjadi pendengar yang baik.

Manusia memiliki dua telinga, supaya kita mendengar lebih banyak.

 

Tabik

 

 

 

 

One thought on “Latihan itu bernama, empati.

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: